Lika-liku Luka

 Setelah perpisahan itu, dan segala keterpurukan ku, Aku,mencoba kembali meniti dari awal. Memperbaiki yang bisa diperbaiki, mengikhlaskan yang hilang dan melepaskan yang pergi.

Setelah sekian lama atas insiden yang terjadi dalam perjalanan ku, aku mencoba bangun dari mimpi burukku.

Aku pun tak tau harus memulainya dari mana. Bahkan bilangan pun tau akan memulai menghitung dari berapa.

Semua ku biarkan mengalir begitu saja.aku mencoba memasang topeng senyum dalam wajahku agar seakan semua sudah baik-baik saja.

Berakting memang hal yang sulit, pantas saja bayaran para artis di layar kaca sangat tinggi, aku yang hanya berpura-pura tersenyum saja sangat susah.hati ini masih membekas luka.

Aku mencoba mengalihkan luka yang ada dengan bepergian ke beberapa kota.

Namun,indah tenggelamnya matahari di ujung samudera, tak mampu menghilangkan indah namanya di daun telinga.

Saat Aku yang berniat mengunggah hasil foto ku di media sosialku,justru berfokus pada tanda notifikasi dipesan yang muncul.

Kemudian kulihat pesan masuk tersebut, dan ternyata sebuah sapaan dari seorang perempuan.

Perempuan yang tak asing bagiku.

Namanya Malikha.akrab panggilanku likha terhadapnya.

Dia merupakan mantan kekasih dari salah satu teman baikku dahulu.

Huh...lagi-lagi pikiranku loncat jauh kebelakang.

Tanpa pikir panjang, aku membalas pesan yang masuk tersebut. Dan seketika obrolan beralih ke WhatsApp.

Kita semakin intens berkomunikasi.entah karena terlalu banyak waktu yang luang, atau memang hati ini sudah mulai nyaman.

Setelah obrolan yang semakin mendalam, aku memutuskan untuk bertemu langsung dengannya. Sekedar temu kangen saja, itu niat awalnya.

Setelah kita saling mengatur waktu untuk pertemuan itu, aku bergegas menuju tempat yang telah kita sepakati. 

Sialnya, ditengah perjalanan, hujan turun dengan sangat lebat, angin dan petir bergantian menyapa seolah mengisyaratkan aku untuk memutar balik arahku.

Tapi aku hanya menepi sejenak.saat setelah hujan reda,demikian juga dengan angin dan petir yang datang secara bersamaan.

Aku kembali melanjutkan perjalananku setengah rintik gerimis. Entah kenapa aku berasa sangat akrab dengan hujan.

Akupun tiba ditempat yang telah ditentukan,dan dia sudah menunggu.

Kusapa dia,kulihat paras wajahnya, dia masih sama seperti yang dulu. Hanya saja aku hanya mengenal sebatas itu.

Obrolan ringan dimulai sesaat setelah dia memberikan secangkir kopi panas untuk sedikit menghangatkan badanku yang agak basah.

Pertemuan itu berlangsung sangat singkat.

Namun tidak dengan kelanjutan kita.

Justru,setelah pertemuan itu, kita semakin akrab.obrolan semakin dalam.kita satu sama lain semakin terbuka.

Kita saling mengungkapkan keluh kesah. Telingaku berasa berfungsi saat itu,bisa mendengarkan keluh kesah orang lain. Justru Hal ini mengingatkan ku pada yang telah berlalu.

Entah kenapa semakin hari rasanya semakin nyaman bersamanya. Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal semacam ini.

Aku selalu mengekang perasaanku terhadap perempuan manapun.namun dia seolah lepas dari kekangan itu.

Sikapnya,mampu melepaskan topeng senyumku, dan membuat ku tersenyum sungguhan.

Apakah aku jatuh hati padanya? Tentu tidak boleh.yah tidak boleh aku mencintainya saat ini. Bagaimana tidak, dia masih status istri orang,meskipun dalam proses perpisahan.

Bodohnya,aku makin dalam masuk dalam permasalahannya.dan anehnya, dia membiarkan itu.

Dia memutuskan untuk menjaga dan membesarkan buah hatinya. Dia perempuan yang tangguh yang kulihat.dia masih tegar dengan segala sesuatu yang sudah terjadi padanya.

Aku semakin yakin,dan menyakinkan niatku untuk menjadi ayah dari sang buah hati. Tak hanya itu,aku juga harus meyakinkan sang anak untuk menerima kehadiranku.

Perlahan aku mulai mendekatkan diri pada sang gadis kecil.penolakan di awal tentu kurasakan.sulit mendapatkan hati seorang anak.

Aku tidak menyerah.perlahan demi perlahan pendekatan ku selalu ku lakukan.aku yakin anak kecil tau mana yang tulus.dan aku melakukan semuanya dengan tulus.

Benar kata pepatah,terkadang hasil Tidak mengkhianati usaha.setelah berkali-kali penolakan, aku merasa dia sudah bisa menerima kehadiranku. Perasaan itu timbul saat dia terlelap di pelukanku. Di situ pula aku merasakan aku sudah siap menjadi sosok ayah untuknya.

Waktu terus berlalu,semua berjalan semakin membaik.dan kemudian aku memberanikan diri untuk mengenalkan lika kepada orangtuaku.

Saat aku membawa Lika bertemu dengan ibu, wajah ibu sudah nampak penolakan terhadap Lika.

Benar saja, tanpa menjelaskan apapun, orangtuaku tau status lika.dan tentu aku tidak mendapat restu dari orangtuaku.

Namun kututupi semua penolakan terhadap Lika. aku kembali berpura-pura seolah semua baik-baik saja.

Justru keadaan semakin buruk, orang tuaku memilih lepas tangan terhadapku karena aku yang tidak menuruti kata-kata mereka.

Disisi lain aku juga harus mencari nafkah untuk sekedar membantu membeli popok sang anak.

Pikiranku terpecah belah.keadaan jauh lebih buruk dari keadaan buruk yang pernah aku alami sebelumnya.

Sampai pada suatu keputusan aku ambil.

Aku memilih berbohong kepada orang tuaku mengenai perempuan itu, lika.

Guna mendapatkan restu dari keduanya,justru hal sebaliknya yang aku peroleh. Untuk pertama kalinya, ku liat linangan air mata menetes pada pipi sang ayah.

Disisi lain,aku ingin membantu mencarikan pekerjaan yang layak untuk Lika supaya dia berdiri di atas kakinya sendiri.

Resiko dari keputusan yang aku ambil benar-benar semua terjadi.

Aku mengecewakan kedua orang tuaku sebagai anak, dan juga mengecewakan seorang perempuan sebagai kekasih.

Lambat laun bangkai yang dikubur dalam pun,tercium bau busuknya. Lika mulai mengetahui kebohongan ku.

Dia yang kini sudah bekerja disebuah perusahaan,mulai bisa sedikit memperhatikanku.

Sialnya, keadaan yang salah yang ia perhatikan.

Dia sangat membenci kebohongan karena masa lalunya. Namun malah aku melakukan hal yang sama. Sontak saja dia langsung membenciku seketika.

Lagi-lagi kesalahan yang ku perbuat.

Namun setidaknya, kini dia mempunyai pekerjaan yang layak untuk bertahan hidup nya dan sang putri kecilku.

Sampai nanti akan ada seorang laki-laki yang memang untuknya,datang di waktu yang tepat.

Dan entah bagaimana saat ini keadaan ini.kebohongan sudah terlanjur aku tebar. Dan mungkin akan terus dipendam sendiri sampai nanti saatnya tiba semua nya terungkap.

Tentu semua yang terjadi menambah daftarpanjang kegagalan ku.

Mimpi buruk kembali datang entahlah untuk waktu berapa lama.

Dan dia, lika, tlah menjadi luka baru yang ada.

Komentar