Adinda

 Sepeda mini berwarna merah yang terparkir diantara barisan sepeda motor itu sangat mencolok, sehingga mencuri pandanganku, lantas otakku berhenti berpikir sejenak, kemudian ingatanku kembali jauh kebelakang tepatnya pada sekitar satu dekade lalu.

"Perkenalkan nama ku Djaka." Kalimat yang sempat ku ucapkan didepan teman-teman kelas baru ku sewaktu sekolah dasar.

Aku merupakan siswa pindahan dari sebuah sekolah di daerah Jawa tengah.pindah ke suatu kota kelahiran sang ayah. Dan disinilah semua kisah dimulai.

Aku beranjak tumbuh dari anak-anak menuju remaja disana.semua berjalan seperti pada umumnya.

Waktu berjalan sesuai dengan seharusnya, dan di perjalanan detik jam terus berputar, aku juga lebih banyak mengenal banyak hal.

Rutinitas berjalan berputar putar setiap hari.aku yang harus berangkat sekolah, belajar,kemudian pulang kembali.begitu seterusnya.

Aku beranjak remaja,mulai masuk ke jenjang sekolah menengah atas, jarak dari rumah ke sekolah sekitar 6km yang ku tempuh dengan sepeda motor tua pada saat itu.

Pada suatu hari saat aku menjalankan rutinitas ku seperti biasanya, ada yang tidak biasa dihari itu.

Aku berangkat sekitar pukul 06.30 pagi, diperjalanan, nampak seorang gadis yang mengayuh sepeda merah, mengalihkan pandanganku dari sepeda-sepeda yang berbaris lurus berjalan di tepian jalan raya menuju ke sekolah.

Keesokan harinya, kulihat lagi,lagi, dan terus menerus.

Pada sampai suatu ketika aku memberanikan diri untuk mencoba berkenalan dengan dia.

Pukul 06.30 pagi kutunggu dia lewat dijalan yang biasanya kita lalui. Aku dan dia bukanlah pelajar dari sekolah yang sama, tapi setiap harinya,kita melalui jalan yang sama untuk sampai di sekolah kita masing-masing.

Jarum jam terus berputar namun tak kunjung jua ku lihat tanda-tanda kedatangannya.hingga jam menunjukkan hampir pukul 07.00, aku memutuskan untuk pergi berangkat. sial, kataku (bergumam dalam hati). Mungkin aku terlambat. Akan ku coba lagi mungkin esok hari.

Keesokan harinya, aku berangkat lebih pagi.namun sialnya seperti hari sebelumnya,tak kutemui dia di sepanjang perjalanan. Seolah semesta tak mengijinkan aku walau hanya menyapanya. (Gumamku dalam hati).

Tapi entah kenapa, aku ini tidak patah arang.aku yang biasanya acuh tak acuh,jadi bisa seperti ini? Sungguh ada hal yang tidak bisa di ungkapkan.

Dipagi itu masih ku tunggu dia muncul.aku, yang berada di tepian pasar tradisional,melihat hiruk pikuknya ibu-ibu tawar menawar, mata ini berfokus pada setiap sepeda yang melintasi pasar tersebut. Seperti menghitung kambing saat kita tak bisa tertidur. Dan benar saja, membuat kantuk menghampiri.

Belajar dari hari-hari sebelumnya, akupun tidak begitu berharap. Aku malas dengan rasa kecewa yang selalu hinggap.

Namun dari kejauhan sepertinya ada warna mencolok diantara para pelajar yang mengayuh sepedanya. Kantuk pun seketika hilang.

Dialah Dinda,.

Seorang gadis imut yang mampu membuat mata ini ingin memperhatikannya.

Tak perlu berpikir panjang, langsung kutarik gas perlahan motor yang sudah siap untuk menghampirinya.

Aku sesuaikan kecepatan dengan Kayuhan sepedanya, berada aku disebelah kanannya. Dan kusapa dia.

Tapi  Bukan sapaan balik yang kudapat, malah dia menghindar,seolah aku menakutkan.

Tak apalah, yang penting dia sudah tahu keberadaanku.(pikiranku dalam hati).

Keesokan harinya, lagi, kumulai rutinitasku kini berada diantara hiruk pikuk pasar. Menunggu dia yang kemarin sangat acuh terhadapku.

Saat dia kembali terlihat,hal yang sama aku lakukan. Numun sialnya, hal yang sama pula yang kudapat.

Dia yang sangat acuh terhadapku membuat pikiranku bercabang, untuk terus mengejarnya, atau menyudahinya.

Disebuah kantin sekolah, aku bercakap dengan teman ku ditemani segelas es teh manis yang di minum untuk bersama.

Anwar, salah satu kawan ku menanyakan perihal sesuatu. Menanyakan seorang perempuan yang tinggal di desaku. Namun bukan nama yang ia sebutkan,melainkan nomor ponselnya, yang kebetulan belakang nomornya sama persis dengan nomor ponselku.

388. Angka yang Anwar sebutkan terdengar di telingaku, sontak saja aku menjawab itu nomorku.

Kemudian Anwar menunjukkan nomor tersebut,dan seketika ada di kontak ponselku saat itu.

Kemudian saat aku mencari tau tentang perempuan yang Anwar maksud, aku mengetahui itulah Dinda.

Dunia berasa berbalik, dari seolah semua tak mendukung ku walau hanya untuk menyapa Dinda, kini aku mempunyai nomornya.dan juga nomor kita yang sama,membuat kebetulan yang semakin menguatkan niatku.

Aku lebih intens lagi mendekatinya. Dinda tetap dengan sikap kerasnya. Susah payah aku hanya untuk mendapat respon darinya.

Sekian lama terus menerus begitu. Aku juga mulai lelah dan berpasrah.

Terlebih lagi,aku harus pergi sejenak dari kota itu untuk mengerjakan tugas prakerin.

Yah..kewajibanku sebagai siswa STM harus melalui hal itu. Aku akan pergi sekitar 3 bulan ke kota gudeg goreng.yah.. tepatnya Banyumas, Sokaraja.

Disaat aku mendekati waktu kepergian ku, aku memutuskan untuk menyudahi dalam mendekatinya. Bagaimana tidak, setiap hari aku usaha saja hasilnya muka acuh yang didapat,.

Namun hal yang tak disangka kudapat. Justru saat aku akan pergi mengerjakan tugas sebagai pelajar, dia malah mulai memberi respon atas apa yang selama ini aku lakukan. Yang kuharap kan menjadi kenyataan.

Bagaikan mendapat angin segar, aku sangat bersemangat untuk mengerjakan tugas tersebut dan ingin segera mengambil akhirinya. Tentu supaya aku bisa setiap pagi ada di sampingnya.

3 bulan berlalu....begitu sangat lama rasanya. Aku berkemas untuk pulang, kemudian kembali melihatnya. Sangat aneh,aku merindukan muka acuhnya.

Hari yang di nantikan telah datang. Di pagi itu, kembali aku ada di tepian pasar untuk menunggunya datang.

Dari kejauhan, warna sepedanya yang mencolok memudahkan aku untuk menemukannya. Senyumnya merona, seakan menyapa kedatanganku kembali.

Hari demi hari kita semakin dekat saja. Perasaan semakin tumbuh dan mendalam.

Sampai pada suatu sore, aku menjemputnya untuk mengantarkannya pulang.

Ditengah perjalanan,awan mendung meneteskan rintik hujannya secara perlahan, bergegas aku mencari tempat untuk berteduh. Sampailah pada sebuah bengkel yang sudah tutup aku menepikan kendaraan tua ku.

Hujan tak kunjung reda, kita pun hanya berdua. Aku pada saat itu memberanikan diri mengungkapkan perasaan ku padanya. Ditengah hujan deras, aku berharap jawabannya bak pelangi yang akan muncul setelah hujan.

Benar saja, dia meng iyakan pernyataan ku. Menjawab pertanyaan ku.

Dan pada saat itu kita pun resmi menjadi sepasang kekasih. 6 September 2010. Aku masih ingat waktu itu.

Selanjutnya kita menjalani hari-hari yang begitu indah dan juga semakin menuntaskan tugas sebagai pelajar.

Tiba saatnya aku tuntas terlebih dahulu karena memang aku satu tingkat di atas dia.

Dia pun sebenarnya adik kelas ku sewaktu sekolah dasar.

Aku tau hal lebih berat akan menimpa aku dan dia. Seperti pada umumnya anak dari desa, setelah selesai menuntaskan sekolah tingkat atas, mereka kebanyakan pergi ke kota untuk mengadu nasib. Entah melanjutkan sekolah, ataupun mencari lapangan kerja.

Sore itu, diiringi sinar matahari yang mulai meredup, langkah kaki ku berasa berat berjalan langkah demi langkah menuju ke stasiun keberangkatan kereta yang akan mengantarkan ku ke ibukota.

Jelas ini lebih berat dari kepergian ku sebelumnya. 

Butuh waktu yang lama di sana untuk menyelesaikan tugas yang jauh lebih rumit dari tugas sekolah sebelumnya.

Diiringi bunyi kereta.aku meninggalkan tempat itu.menaruh rindu di suatu pagi yang nanti akan ku ambil saat kembali.

Hatiku bergejolak saat perlahan menjadikan jauh sebuah jarak.

Saat fajar tiba, kakiku sudah menginjak di tanah ibu kota. Siap ku kejar mimpi-mimpi dan cita-cita demi cintaku nan jauh disana.

Perjuangan dimulai saat ku mulai mencari kerja. Membuat belasan lamaran pekerjaan yang siap aku sebarkan.

Di ibu kota tak sesuai dengan apa yang ku pikirkan sebelumnya. Memang sangatlah kejam kota ini. Setiap pagi aku mencari pekerjaan kesana kemari belum ada hasil yang di dapat.

Aku termasuk siswa dengan prestasi yang tidak terlalu buruk, namun memang,terkadang prestasi kalah dengan relasi.

Sampai pada suatu pagi aku diterima di toko sepatu di daerah pasar baru, Jakarta pusat, aku yang bersekolah dengan kujuruan teknik otomotif,harus bekerja sebagai pelayan toko sepatu. Namun tak apa, kadang jalan memang berliku.

Dari yang setiap pagi ku bersihkan debu-debu yang menempel pada sepatu di rak yang berjejer rapi, sampai membersihkan gudang dengan ratusan model dan ukuran sudah ku jalani. Dengan giat aku melakukannya setiap hari.

Sampai setelah sekian lama bekerja di toko sepatu,dan sempat beberapa kali berpindah pindah,dan berganti-ganti pekerjaan, aku akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

Aku bekerja di sebuah media cetak saat itu.seiiring berjalannya waktu, aku bisa mendapat pekerjaan yang tetap.lega rasanya setelah jerih payah yang dilalui, aku mendapatkan sebuah hasil.

Namun, perjalanan ku dalam meniti karir berbanding terbalik dengan perjalanan kisah asmara ku.

Aku mendapatkan pesan dari sang kekasih nan jauh disana, bahwa dia ingin lebih fokus lagi menghadapi ujian Nasional yang akan dijalankan. Dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu.

Akupun tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menerima kenyataan dari pernyataan yang ia berikan.

Waktu terus berjalan, aku dengan rutinitasku sebagai pekerja, dan dia entah bagaimana. Tak ada kabar sedikitpun tentang dia.

Sangat membosankan kehidupan yang kujalani. Namun tak juga aku bisa membuka hati untuk yang lain.

Entahlah sebegitu yakinnya aku dengan dia. Dinda, nama yang begitu indah terdengar di telingaku.

Keyakinanku seolah membuahkan hasil,

Langitku tak lagi gelap.

Pelangi kembali memberi warnanya.

Yahh .. Dia, Dinda datang kembali. Dia telah menyelesaikan tugas akhirnya sebagai pelajar.

Dia pun datang ke ibu kota untuk mengadu nasib.

Dia kini ada di dekatku, dan terucap janji untuk diriku sendiri, akan kulakukan segala yang ku bisa untuk membahagiakannya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, dia bisa bekerja di sebuah perusahaan, dan aku pun melanjutkan jenjang pendidikanku di sebuah universitas swasta di pinggiran ibukota.

"Aku ingin menjadi orang yang sukses".

Kata-kata yang kutancapkan dalam pikiranku.

Karena kata-kata itupun, aku menjadi orang yang super sibuk, kerja dan kuliah dalam hari yang sama, berjuang mengejar cita-cita untuk membahagiakannya.

Aku lalai, satu kesalahan fatal yang aku lakukan. Aku lupa, dia tak cuma butuh diperjuangkan, dia juga butuh ada aku untuknya.

Aku yang terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, berbekal keyakinan semuanya untuk memperjuangkan dia, itu membuat aku merasa selalu benar.

Aku lupa,aku luput, bahwa dia membutuhkan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya,dia membutuhkan bahu untuk tempat bersandarnya,tapi aku tidak ada.

Masalah demi masalah yang ia pendam tak bisa lagi ia bendung. Setelah sekian tahun berjuang, dia memilih untuk pulang.

Bagaikan awan mendung nan gelap, kemudian hujan deras dan disertai petir, bersamaan dengan kepulangannya, aku diberhentikan dari pekerjaanku.tak hanya itu, aku juga harus berhenti dari meja belajar yang sudah ku jalani selama 7 semester.

Segalanya seolah berakhir. Pekerjaan,pendidikan, cita-cita, bahkan cinta harus terhenti ditengah perjalanan.

Itu semua karena ke angkuhan ku, kesombonganku.

Itulah aku dimasa lalu yang kini duduk berada di tepian sungai dengan hiruk pikuk ramainya kota.

Penyesalanku sangat dalam.

Namun juga aku tak pernah merasa menyesal telah memperjuangkan nya.

Bahwa Sanya aku pernah begitu mencintai nya, sampai aku lupa batas kemampuanku.

Aku pernah begitu memperjuangkannya bahkan diluar pemikirannya.

Sepeda itu, mengingatkanku padanya.

Adinda.


Komentar