Titik Tenang

Maret 2020, Bencana terjadi di bumi ini. Semua berkata mengenai pandemi.

Tidak bagiku, Djaka.

Keadaan sangat buruk saat pandemi. Itu bagi seluruh orang. Namun bagiku, ada hal yang juga sama besarnya dengan pandemi ini. Entah karena pandemi atau hanya kebetulan semata. Namanya hadir lagi dalam ucapanku.

Dinda, seseorang yang pernah kusesali kini hadir kembali. Dia bagaikan "vaksin" bagiku ditengah virus yang ada.

Entah aku harus bagaimana menyikapinya, yang jelas aku sangat merindukan nya.

Dimalam itu,saat aku masih sibuk mengerjakan pekerjaan ku, sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku.

Kubuka pesan yang datang dari seorang yang mengenal aku dan Dinda. Dicantumkan nya nomor ponsel Dinda dipesan tersebut. Tanpa menyebutkan sepatah katapun, aku sudah mengetahui maksudnya.

Di waktu itu pula aku menghubungi nomor yang tertera itu. Benar saja, suara nya sangat tidak asing ditelinga ku. Aku sejenak terdiam sembari meneteskan air mana. Aku begitu merindukannya.

Di malam itu pula aku mengajaknya bertemu. Memang ada hal yang sangat ingin ku sampaikan.

Saat dia meng iyakan ajakanku untuk bertemu, bahkan saat itu juga, langsung ku tinggalkan pekerjaan ku. 

Ku kendarai motor matic yang biasa dengan santainya, saat itu berasa berada di sirkuit. Rasa rindu ini sangat kuat sehingga ingin secepatnya sampai disana meskipun jarak membentang sangat jauh.

Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya aku sampai padanya. Dia melempar senyum untukku. Senyum yang masih sangat ku ingat saat terakhir kali kulihat beberapa tahun yang telah berlalu.

Kita pun berbincang disebuah warung makan. Membicarakan hal yang terjadi.

Dimalam itu,ku ucapkan maaf kepadanya atas semua yang telah terjadi. Begitu banyak hal yang tidak bisa disampaikan saat itu.

Namun setelah malam pertemuan itu,tak kusangka kita masih berkomunikasi, kita seolah kembali seperti semula.

Dia,,yang datang kembali untukku, menghidupkan semua mimpi-mimpi yang telah kupendam sendiri. memberi secercah cahaya harapan di kelamnya duniaku saat itu.

Waktu terus berjalan.perlahan, satu persatu hal yang telah terjadi ku ungkapkan, semua kegagalan ku dan juga kesalahanku.

Hari demi hari berjalan. Dan dimalam itu hari yang spesial untuknya hadir. Di akhir April aku dan dia seumuran, dan dimalam itu, ku ungkapkan niat ku yang ingin mempersunting dia. Dia pun dengan gembira menerima hal tersebut.

Beberapa hari berlalu setelah malam itu, entah apa yang terjadi, dia perlahan berubah. Sikapnya dingin, aku tau ada hal yang terjadi padanya.

Namun dia kembali menjadi seseorang yang tertutup. Kembali aku hanya bisa menerka-nerka.

Bodohnya, aku tak bisa belajar dari masa lalu. Aku masih tak bisa mengendalikan segala perasaan campur aduk yang ada.

Dan pada sampai suatu titik, dia memutuskan untuk kita berteman saja.

Bagai petir di terik siang, beberapa hari lalu, dia meng iyakan atas permintaan ku.tapi sekarang hal sebaliknya terucap.

Aku yang sudah menyiapkan, aku sudah meminta restu dari orang tua, namun kembali aku mengecewakan orang tua.

Aku bak orang gila. Apa apaan ini hidup mempermainkan ku (dalam hatiku berteriak).

Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Aku menyerah. Setiap kali aku melihat diriku didepan cermin,memang Aku tau aku orang yang gagal segala hal. Dan juga tak pantas aku baginya.

Aku bukan lagi sosok lelaki hebat yang bisa memperjuangkan nya dengan luar biasa. Yang tersisa hanya raga yang tak bermakna.

Lalu aku berfikir apa ini jawaban dari doa yang selalu ku lantunkan? (Tanyaku dapam hati). Aku yang berharap segala sesuatu yang terbaik untuknya, doa itu pula yang menyingkirkan ku darinya.

Aku yang dengan segala kegagalanku,

Aku yang bukan lagi sehebat aku yang dulu,

Aku yang dengan segala masa kelam ku,

Tak pantas untuknya.

Bodohnya,aku masih belum sempat memberikan segala yang terbaik untuknya.

Dia bagai mimpi indah yang datang,

Namun seperti mimpi indah pada umumnya, semua berlalu begitu cepat. 

Kini kembali ku buang jauh segala hal yang belakangan ku kejar.

Kini kembali aku dalam keterpurukan.

Kini kembali aku merasakan rasanya putus asa.

Sementara disudut kota sana, tak perlu waktu lama dia mempunyai seorang satria. Dipampangnya dalam bingkai foto berdua. Disampaikannya kedunia bahwa dia sudah bisa bahagia.

Lantas bagaimana denganku? 

Namun langkah kaki ini harus tetap melangkah maju, meski dijalanan nan terjal, gelap, dan tanpa arah.

Kaki ini tanpa alas kaki terus merangkak dijalan yang penuh tajamnya kerikil dan bebatuan, dan tangan ini, masih mmenunggu genggaman seseorang yang tak akan lagi melepaskannya sendirian.

Aku, masih harus berpura-pura tersenyum bahagia, sampai nanti suatu ketika ada seorang gadis yang membuatku lupa bahwa telah berpura-pura.


Komentar